Ancaman perang tarif antara Uni Eropa (UE) dan Tiongkok telah menimbulkan kekhawatiran serius akan dampaknya yang meluas, terutama bagi pabrik otomotif Jerman. Prospek pengenaan bea masuk oleh UE terhadap kendaraan listrik (EV) Tiongkok, dengan alasan subsidi tidak adil, berpotensi memicu gelombang balasan dari Beijing yang dapat secara signifikan merugikan industri mobil Jerman. Ini adalah pukulan potensial yang sangat terasa bagi pabrik otomotif yang telah lama menjadikan Tiongkok sebagai pasar kunci dan basis produksi global.
Pabrik otomotif besar seperti Volkswagen, BMW, dan Mercedes-Benz berada di garis depan kekhawatiran ini. Ketergantungan mereka pada pasar Tiongkok sangat besar, tidak hanya sebagai konsumen utama tetapi juga sebagai bagian integral dari rantai pasok global mereka. Jika Tiongkok membalas dengan tarif yang setara terhadap impor mobil dari Eropa, hal ini akan secara langsung memengaruhi daya saing produk-produk Jerman di pasar Tiongkok, yang pada gilirannya dapat memangkas margin keuntungan dan bahkan mengarah pada penyesuaian produksi atau tenaga kerja.
Para pimpinan industri otomotif Jerman telah berulang kali menyuarakan keprihatinan mereka, mendesak pemerintah untuk menghindari konfrontasi dan mencari solusi diplomatik. Mereka berpendapat bahwa perang tarif hanya akan menciptakan kerugian bagi semua pihak, mengganggu stabilitas ekonomi global, dan memperlambat investasi dalam inovasi teknologi. Alih-alih proteksionisme, mereka menganjurkan persaingan yang adil dan terbuka yang didasarkan pada kualitas dan inovasi, bukan pada pembatasan perdagangan.
Sebagai contoh, dalam sebuah forum diskusi tertutup yang diadakan di markas besar salah satu pabrik otomotif terkemuka di Bavaria pada 12 Mei 2025, para eksekutif senior membahas skenario terburuk dari perang tarif. Seorang analis keuangan yang hadir, Bapak Martin Schulz, dalam wawancara setelah forum pada 13 Mei 2025, menyatakan bahwa “dampak pada profitabilitas kuartalan bisa sangat drastis jika tarif diberlakukan.” Laporan dari Serikat Pekerja Industri Jerman pada 14 Mei 2025, juga menunjukkan peningkatan kekhawatiran di kalangan pekerja mengenai prospek pengurangan jam kerja atau bahkan PHK jika volume ekspor ke Tiongkok menurun tajam. Data ini menggarisbawahi bahwa prospek tarif UE-Tiongkok bukan hanya masalah perdagangan, tetapi berpotensi memengaruhi ribuan pekerjaan dan stabilitas ekonomi di jantung industri otomotif Jerman.