Thailand, yang telah lama menjadi pusat produksi otomotif regional di Asia Tenggara, kini menghadapi fenomena yang belum pernah terjadi sebelumnya: invasi mobil listrik (EV) dari China. Gelombang masuknya kendaraan-kendaraan ini, didukung oleh strategi harga yang agresif dan kebijakan insentif, telah menciptakan tantangan serius bagi manufaktur otomotif yang sudah mapan, terutama dari Jepang, yang telah berinvestasi besar di Negeri Gajah Putih selama beberapa dekade. Situasi ini memaksa industri untuk beradaptasi atau menghadapi dampak yang signifikan.
Kebijakan Pro-EV dan Dampak Tak Terduga
Kebijakan pemerintah Thailand untuk mempercepat transisi ke kendaraan listrik, termasuk penghapusan bea masuk impor dari China melalui ASEAN-China Free Trade Agreement dan subsidi pembelian sebesar 150.000 Baht per unit, awalnya disambut baik. Namun, langkah-langkah ini secara tidak terduga membuka jalan bagi invasi mobil listrik secara masif. Produsen EV China memanfaatkan celah ini dengan sangat agresif, membanjiri pasar Thailand dengan beragam model yang menawarkan teknologi canggih dengan harga yang sangat kompetitif. Hal ini menciptakan kondisi kelebihan pasokan di pasar, yang pada gilirannya memicu perang harga yang intens.
Tekanan Invasi Mobil Listrik pada Penjualan dan Produksi Lokal
Dampak langsung dari invasi mobil listrik ini terasa pada penjualan kendaraan konvensional yang diproduksi secara lokal. Konsumen, yang tertarik dengan harga dan fitur EV China, mulai beralih. Akibatnya, pabrikan mobil Jepang, yang memiliki basis produksi signifikan di Thailand dan selama ini mendominasi pasar, melihat volume penjualan dan produksi mereka menurun drastis. Beberapa perusahaan terpaksa menyesuaikan target produksi mereka, bahkan ada laporan mengenai pengurangan jam kerja atau penundaan investasi baru. Misalnya, menurut laporan Asosiasi Manufaktur Otomotif Thailand per Juni 2025, total produksi kendaraan di Thailand mengalami sedikit penurunan dibandingkan kuartal sebelumnya, sebagian besar disumbang oleh perlambatan produksi kendaraan konvensional.
Adaptasi dan Respon Manufaktur Tradisional
Untuk bertahan dalam persaingan, manufaktur tradisional kini dipaksa untuk beradaptasi dengan cepat. Banyak dari mereka mulai menggeser fokus ke produksi EV di Thailand, berinvestasi dalam fasilitas baru atau memodifikasi yang sudah ada untuk mengakomodasi perakitan kendaraan listrik. Namun, proses ini membutuhkan waktu dan investasi besar. Pemerintah Thailand juga sedang mengevaluasi kembali kebijakan insentifnya untuk memastikan adanya keseimbangan antara promosi EV dan perlindungan industri domestik. Pada pertemuan Komite Industri Otomotif Thailand yang diadakan pada 20 Mei 2025, disimpulkan bahwa perlunya strategi jangka panjang untuk memastikan invasi mobil listrik ini tidak merugikan secara permanen basis manufaktur lokal. Tantangan ini menjadi ujian nyata bagi ketahanan dan kemampuan adaptasi industri otomotif Thailand di era globalisasi dan elektrifikasi.