Ketika elektrifikasi kendaraan didominasi oleh solusi baterai, Kendaraan Listrik Sel Bahan Bakar (Fuel Cell Electric Vehicles atau FCEV) yang menggunakan hidrogen muncul sebagai alternatif yang menjanjikan, terutama untuk transportasi jarak jauh dan kendaraan berat. Di kawasan Asia Tenggara, dengan kebutuhan energi yang besar dan tantangan logistik di kepulauan, Menakar Potensi hidrogen sebagai bahan bakar masa depan sangatlah krusial. Menakar Potensi FCEV melibatkan analisis yang cermat terhadap keunggulan operasional hidrogen—pengisian cepat dan jarak tempuh yang jauh—dibandingkan dengan hambatan signifikan dalam pembangunan infrastrukturnya. Tantangan ini menjadikan hidrogen sering disebut sebagai “celah” dalam transisi energi global.
Keunggulan utama FCEV terletak pada kepadatan energi dan kecepatan pengisian. Sebuah mobil FCEV seperti Toyota Mirai dapat diisi ulang penuh dalam waktu kurang dari lima menit, menawarkan jarak tempuh yang setara dengan mobil bensin konvensional, jauh melampaui waktu pengisian BEV saat ini. Keunggulan ini membuat FCEV sangat cocok untuk sektor transportasi logistik berat (truk) dan bus antar kota, di mana waktu istirahat pengisian daya harus minimal. Beberapa negara di Asia Tenggara, seperti Singapura dan Malaysia, telah mulai Menakar Potensi ini dengan studi kelayakan penggunaan hidrogen pada armada bus umum mereka.
Namun, hambatan terbesar adalah pembangunan infrastruktur. Jaringan Stasiun Pengisian Bahan Bakar Hidrogen (Hydrogen Refueling Stations atau HRS) sangat mahal untuk didirikan—jauh lebih mahal dan lebih kompleks daripada stasiun pengisian daya listrik. Hidrogen harus disimpan dan didistribusikan dalam kondisi sangat dingin atau di bawah tekanan ekstrem (hingga 700 bar), menuntut teknologi yang canggih dan protokol keamanan yang ketat. Di seluruh Asia Tenggara, saat ini hanya terdapat segelintir stasiun HRS, yang sebagian besar masih dalam tahap proyek percontohan atau penelitian. Misalnya, HRS pertama di Jakarta yang diresmikan pada bulan April 2024 masih beroperasi dalam skala terbatas untuk kendaraan uji.
Tantangan kedua adalah produksi hidrogen “hijau” (green hydrogen). Untuk menjadi solusi nol emisi yang sejati, hidrogen harus diproduksi melalui elektrolisis menggunakan energi terbarukan. Saat ini, mayoritas hidrogen di dunia masih diproduksi dari gas alam (grey hydrogen), yang melepaskan CO2 ke atmosfer. Transisi menuju produksi hidrogen hijau membutuhkan investasi besar dalam energi surya dan angin, yang memerlukan kebijakan energi jangka panjang yang stabil di tingkat regional. Dengan mempertimbangkan biaya infrastruktur yang masif dan kebutuhan untuk menghasilkan hidrogen yang berkelanjutan, implementasi FCEV di Asia Tenggara diperkirakan akan fokus pada penggunaan armada (logistik dan transportasi publik) terlebih dahulu, sebelum merambah ke pasar konsumen individu.