Banyak orang beranggapan bahwa upaya penghijauan selesai tepat setelah bibit pohon dimasukkan ke dalam tanah. Namun, bagi komunitas Ikatan Motor Indonesia (IMI) Jambi, masa kritis justru dimulai setelah pohon ditanam. Mereka menyadari bahwa tingkat kematian bibit di jalur off-road sangat tinggi akibat faktor cuaca, gangguan hama, hingga aktivitas kendaraan di jalur tersebut. Oleh karena itu, mereka merancang sebuah Protokol perawatan Pasca Tanam yang ketat untuk memastikan setiap pohon mampu bertahan hidup dan tumbuh besar dengan optimal.
Protokol ini dimulai dengan pendampingan intensif selama satu bulan pertama pasca-penanaman. Pada periode ini, bibit sangat rentan terhadap kekeringan. IMI Jambi bekerja sama dengan komunitas lokal dan warga desa untuk membuat sistem pemantauan rutin. Mereka menunjuk penanggung jawab di setiap sektor jalur agar secara berkala memeriksa kondisi Pasca Tanam. Jika ditemukan tanaman yang layu, tim lapangan akan segera melakukan tindakan penyelamatan, seperti pemberian nutrisi tambahan atau penyiraman darurat jika curah hujan tidak kunjung datang dalam waktu lama.
Salah satu poin penting dalam protokol ini adalah perlindungan fisik terhadap tanaman muda. Sering kali bibit yang baru ditanam terinjak atau tersenggol oleh aktivitas warga atau motor yang melintas. IMI Jambi mewajibkan pemasangan ajir atau tiang penyangga yang kuat sekaligus tanda pengenal di setiap pohon. Selain berfungsi sebagai pelindung dari benturan, ajir ini juga membantu pohon tumbuh tegak dan tidak mudah rebah saat diterpa angin kencang. Pemasangan pelindung ini menjadi standar baku dalam setiap kegiatan reboisasi yang dilakukan oleh komunitas mereka.
Selain perlindungan fisik, pembersihan area sekitar tanaman dari gulma juga menjadi kewajiban dalam protokol perawatan. Gulma yang tumbuh terlalu cepat sering kali merampas nutrisi dan air dari bibit muda. Melalui kerja bakti rutin yang melibatkan anggota IMI dan warga, area di sekitar tanaman dibersihkan secara berkala agar ruang tumbuh bibit tetap optimal. Perawatan ini dilakukan setidaknya dua kali dalam sebulan hingga pohon dinilai cukup kuat untuk bertahan hidup mandiri di lingkungan alaminya.